Ramai Dibahas, Sungkup Oksigen Setya Novanto Mirip Terapi Sleep Apnea. Ternyata Oh Ternyata........!

Infoteratas.com - Beredarnya foto Setya Novanto tengah terbaring sakit di Rumah Sakit Premier Jakarta menimbulkan banyak komentar netizen. Beberapa menilai ada kejanggalan pada peralatan yang dipakai.

Salah satunya adalah sungkup atau masker yang digunakan Setya Novanto. Diyakini, alat yang dipakai tersangka kasus e-KTP tersebut bukan merupakan sungkup oksigen melainkan sungkup alat Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

Karena alat tersebut dipakai juga untuk mengatasi gangguan tidur, detikHealth menghubungi pakar kesehatan tidur dari Snoring & Sleep Disorder Clinic Pondok Indah, dr Andreas Prasadja, RPSGT, untuk memastikan.

"Saya kan enggak periksa, tapi masker yang digunakan itu masker CPAP yang digunakan pada saat tidur," ujarnya saat dihubungi detikHealth, Kamis (28/9/2017).

Sungkup yang digunakan tersebut terhubung ke mesin CPAP melalui selang. Namun dalam foto tersebut, tidak terlihat penampakan mesinnya seperti apa.

Dokter yang akrab disapa dr Ade ini menjelaskan bahwa alat tersebut digunakan untuk mengatasi sleep apnea, yaitu gangguan tidur di mana napas tiba-tiba berhenti saat tidur.

"Kalau ada penyakit jantung dan punya riwayat mendengkur ya harus dilakukan pemeriksaan," saran dokter yang juga praktik di Rumah Sakit Mitra Kemayoran ini.

Gangguan sleep apnea ini cenderung terjadi pada orang yang mendengkur saat tidur, dan ini merupakan masalah serius yang tidak boleh diremehkan.

"Saluran napasnya tersumbat, bisa tersedak, batuk-batuk, henti napas. Bahaya sekali," pungkasnya.

Menderita penyakit langka, remaja ini tak bernapas saat tidur

Liam Derbyshire lahir dengan penyakit bawaan langka yang menyebabkan dia berhenti bernapas saat tidur. Saat dilahirkan, dokter menyatakan Derbyshire tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari tiga minggu namun rupanya remaja laki-laki itu mampu bertahan hingga usia 18 tahun.

Menurut dokter, Derbyshire menderita suatu kondisi dikenal dengan hipoventilasi sentral atau "Kutukan Ondine". Diperkirakan hanya ada 1.500 orang menderita penyakit ini, namun kasus Derbyshire adalah terparah dari yang pernah ada. Karena penyakit langkanya, Derbyshire harus tidur di tempat tidur medis dilengkapi alat bantu pernapasan sepanjang hidupnya.

"Kami sangat beruntung karena dia masih diberi kehidupan sampai sekarang. Kami selalu ingin dia memiliki kehidupan normal, namun perjuangannya bertahan hidup telah melampaui semua harapan kami," kata ibu Derbyshire, seperti dilansir dari laman Oddity Central, pekan lalu.

Meski menderita penyakit langka yang memungkinkan dia untuk meninggal kapan pun setiap sedang tidur, namun Derbyshire tidak pernah menyerah. Bahkan, perkembangannya terus memukau para dokter.

"Saya tidak pernah menemukan kasus anak semacam ini yang mampu bertahan higga sekarang. Ini sangat menakjubkan. Dia adalah anak yang unik dibanding dengan anak lain di seluruh dunia," kata dokter Gary Connett yang menanganinya.
Karena kondisinya, Liam tidak akan pernah benar-benar mandiri dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kedua orangtua Derbyshire terus mendampinginya setiap saat agar dia tetap bisa terawasi.


Manfaat Terapi Pernapasan pada Orang yang Sering Ngorok

Sleep apnea obstruktif (OSA) atau henti napas saat tidur yang biasa dialami oleh mereka yang sering tidur mendengkur merupakan kondisi yang tak bisa dianggap remeh karena meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. 
Berhentinya napas akan membebani kerja jantung sehingga orang yang mengalami sleep apnea pun lebih rentan terkena serangan jantung. Terlebih jika penyakit ini diikuti dengan penyakit paru obstruktif kronik (COPD), risiko kematian pun semakin tinggi.

Kabar baiknya, sebuah riset baru menemukan terapi dengan alat  continuous positive airway pressure (CPAP) dapat mengurangi risiko kematian pada penderita OSA sekaligus COPD.

Para paneliti menganalisa data dari 227 pasien dengan kedua kondisi ini. Mereka menemukan, pasien yang menggunakan terapi CPAP memiliki risiko kematian yang lebih rendah daripada pasien yang tidak. Dalam periode studi tersebut (2007-2010), ditemukan ada 17 pasien yang meninggal, mereka diketahui tidak menerima CPAP terapi.
Studi yang dipublikasi dalam Journal of Clinical Sleep Medicine tersebut mengungkap, di samping dikaitkan dengan beberapa penurunan risiko kematian, penggunaan CPAP juga mampu membuat pasien tidur beberapa jam lebih lama. Cukup tidur diketahui juga dapat menurunkan risiko kematian.

Menurut peneliti studi Dr Michael Stanchina, asisten profesor kedokteran di Brown University dan dokter di Rhode Island Hospital, hasil studi yang paling mengejutkan adalah berapapun tingkat penggunaannya, CPAP tetap dikaitkan dengan penurunan risiko kematian.

"Studi ini menambah kaya literatur tentang gabungan penyakit OSA dan CPOD, sehingga harapannya dapat mempermudah pengobatannya," ujarnya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), COPD merupakan penyakit progresif yang membuat penderitanya sulit bernapas. Merokok diketahui merupakan penyebab utama dari penyakit tersebut.

Dan OSA merupakan penyakit karena menutupnya saluran napas yang menyulitkan udara untuk mengalir saat tidur. CPAP menjaga saluran napas tetap terbuka dengan mengalirkan udara melalui masker yang dipakai selama tidur.

 (detik.com/Merdeka.com/kompas.com)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ramai Dibahas, Sungkup Oksigen Setya Novanto Mirip Terapi Sleep Apnea. Ternyata Oh Ternyata........!"

Posting Komentar