Sadis! Pegiat Lingkungan 'Mandi Darah' Dianiaya di Samosir


Infoteratas.com - Pegiat lingkungan dari Yayasan Pecinta Danau Toba, Sebastian Hutabarat dan Johannes Marbun jadi bulan bulanan di Onanrunggu, Selasa (15/8).

Ditemui TOPMETRO.NEWS saat memberikan keterangan (BAP), Johannes Marbun menjelaskan mereka berada di Onan Runggu, Samosir sejak Senin sore untuk melihat potensi Kabupaten Samosir. Karena YPDT sedang menjalin kerjasama dengan relawan dari luar terkait pariwisata berbasis masyarakat.

“Kami baru tiba sore hari. Setelah diskusi tidak mungkin langsung menyeberang ke Simalungun karena jadwal kapal ferry penyeberangan yang terbatas. Kami berencana menyeberang dengan ferry jam 10 esok harinya. Tadi pagi, menunggu waktu jam 9 ke Tomok, kami melihat lihat lingkungan sekitar. Rencana kami hanya sebentar karena takut ketinggalan ferry,” jelas Johannes.

Lebih lanjut Johannes menjelaskan mereka memasuki areal tambang batu milik JS, yang disebut-sebut abang Bupati Samosir.

“Di sana tidak ada pagar pembatas. Jadi saat kami masuk, JS sedang menerima telepon. Kami salaman. Karena JS asyik berbicara di handphonenya, kami melihat lihat lokasi tambang. Setelah menutup teleponnya JS mendekati kami dan berdiskusi,” jelas Johannes.

Saat diskusi, Sebastian menyinggung terkait adanya riak-riak penolakan tambang batu yang dikelolah JS. Diskusi itu pun memanas dan JS memaki-maki Sebastian dengan kata-kata yang tidak santun.

Dituturkan Johannes, saat mau keluar dari area tambang masih sempat menyalami JS dan beberapa orang, ketika itulah terjadi penganiayaan kepada Sebastian dan dirinya.

Lalu, melihat aksi premanisme itu Johannes berlari mencari pertolongan

Sebastian pun mengatakan hal yang sama dan meminta Johanes untuk merekam kejadian itu.

“Saya menyuruh Marbun (Johannes) untuk merekam dan lari,” ujar Sebastian.

Penganiayaan itu pun brutal. Bibir bagian atas sebelah kanan Bastian mengalami luka robek, dan Bastian pasrah tanpa melakukan perlawanan.

“Saya tidak melakukan perlawanan, Saya lipat tangan dan berdoa dengan pasrah saat dipukuli. Dan mereka terus memukuli,” ungkap Sebastian.

Sadisnya, menurut Sebastian, selain dipukuli, dimaki, bentuk penghinaan yang lainpun dia terima ketika celananya dipelorotin anak buah JS.

Sambil berlari menyelamatkan diri, Johannes terus dikejar anak buah JS. Bahkan ada yang hendak memukulnya dengan broti namun urung karena dilerai anak buah JS yang lain.

Johannes meminta tolong kepada orangtua Kepala Desa Onan Runggu dan untuk melihat kondisi Sebastian Hutabarat.

Johannes pun kembali berlari menuju rumah Ratna Gultom, tempat mereka menginap.

Thomas, suami Ratna Gultom pun berangkat melihat kondisi Sebastian lalu disusul Ratna.

Karena dari mereka tidak ada yang mengenal aparat kepolisian, Johannes langsung menelepon ke kantornya di Jakarta dan menceritakan keadaan yang mereka alami.

Sebastian pun berhenti dipukuli saat ibu kepala desa, Ratna dan suami datang melerai.

Kepala Desa Onan Runggu pun berusaha mendamaikan Sebastian dengan pihak JS. Namun tidak membuahkan hasil.

“Mereka mau berdamai. Namun mereka mau berdamai tapi dengan cara menekan kami.’ jelas Sebastian.

Menurut Sebastian Hutabarat dan Johannes Marbun, kejadiannya pagi sekitar jam 08.00 Wib ke jam 09.00 Wib. Akibat lokasi yang jauh dan sulit, aparat kepolisian dari Kecamatan Nainggolan tiba sekitar jam 2 siang di Onan Runggu dan langsung berangkat ke Pangururan dan membuat laporan pengaduan ke Polres Samosir.

Setelah visum dan memberikan keterangan sekitar jam 12 malam, karena merasa tidak nyaman dan untuk menjaga terjadi sesuatu, Sebastian Hutabarat dan Johannes Marbun dikawal anggota Polres Samosir keluar dari Samosir menuju Balige. (TM-21)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sadis! Pegiat Lingkungan 'Mandi Darah' Dianiaya di Samosir"

Posting Komentar