Video panas! Astagfirullah......Lihat Kelakuan Penghuni "Kampung ARAB" di PUNCAK


Infoteratas.com - Warga yang bertempat tinggal dilingkungan Warung Kaleng, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor mengaku gerah serta minta pemerintah daerah segera turun tangan menghentikan tradisi tahunan kawin kontrak.

“Warung Kaleng ini lebih dikenal sebagai Kampung Arab. Sebab, lebih banyak orang Timteng (Timur Tengah) yang datang ke kafe dan jarang orang pribumi. Sudah berulangkali lokasi ini  digerebek polisi. Selain soal prostitusi, hal menonjol lainnya adalah kawin kontrak,” kata Asep Firdaus (35), warga Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Bogor kepada indeksberita.com


Penuturannya, wisatawan asal Timteng yang menetap di lingkungan Warung Kaleng ini selain menikmati dinginnya udara puncak, juga kerap melakukan kawin kontrak. Dulu kawin kontrak dilaksanakan di sejumlah vila dan hotel. Namun, karena sering digerebek polisi, belakangan kawin kontrak pun dilakukan didalam kendaraan.


“Wisatawan Timur Tengah biasanya datang bergerombol yang ingin kawin kontrak. Lokasinya di Warung Keleng. Biaya kawin kontrak sekitar Rp10-15 juta. Separuh untuk mempelai wanita, sebagian sisanya dibagi untuk mediator, dua saksi dan penghulu yang asal comot. Wanitanya, bukan warga Puncak. Mereka yang saya tahu pendatang dari Cianjur, atau Sukabumi,” tuturnya.


Dia mengaku malu wilayahnya berlabel buruk karena hadirnya turis asing di Warung Kaleng. Sejumlah kafe dil ingkungan Warung Kaleng, disebutnya juga dikenali jadi tempat tongkrongan wanita asal Maroko.


“Mereka banyak tinggal di Puncak menjalankan bisnis esek-esek sampai kawin kontrak. Hanya bedanya, soal urusan kawin kontrak, gadis Maroko maunya dibayar tunai. Sebab, kalau kawin kontrak mereka enggan mengurus administrasi,” imbuhnya.


Sayangnya, saat media online ini berniat mengkonfirmasi soal fenomena kawin kontrak, Camat Cisarua Bayu Rahmawanto diketahui sedang tidak berada di tempat. Terpisah, Kabid Pemeriksaan Pol-PP Kabupaten Bogor, Agus Ridho mengatakan, pekan depan pihaknya akan menertibkan usaha warga asing di kawasan Warung Kaleng, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua karena setelah dilakukan pendataan, diketahui banyak yang belum mengantongi izin.


“Satpol PP Kabupaten Bogor akan membongkar seluruh bangunan di kawasan Warung Kaleng, Cisarua yang berdiri di saluran air maupun bahu jalan. Hasil pendataan, di kawasan Warung Kaleng banyak yang melanggar. Sesuai prosedur, akan dieksekusi tanpa harus ditegur lagi,” ucap Agus Ridho.


Sebagai informasi, Warung Kaleng sebenarnya adalah sepotong Jalan Jakarta-Puncak di kilometer 84. Panjangnya, tak lebih dari 50-100 meter. Di kanan-kiri jalan, berjajar puluhan warung dan kafe. Yang membuat berbeda, sejumlah papan nama tempat usaha di lokasi tersebut banyak yang menggunakan papan nama berhuruf Arab dan terlihat banyak warga bertampang Timur Tengah. (eko)



Fakta lain di "kota arab":

Sekitar 4 Tahun saya tidak ke Kota Bunga( Puncak, Bogor) ; jadi minggu lalu saya ke Kota Bunga hari Jumat. Ternyata Kantor Kota Bunga sekarang hanya buka Senin s/d Rabu. Karena sudah telanjur di Kota Bunga, saya riset lah kepo melihat-lihat.

Di Pintu I ada bangunan besar dengan Plang besar MARKAS ALJAZEERA. Saya pikir Kantor Berita Al Jazeera, ternyata bukan. Itu Restoran dan Hotel yang konon kata Penjaga rumah saya, ada satu ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh kaum Pria saja. "Apa ada tari perut yang melempar-lempar uang di atas perut pak ???" tanya saya. Jawab si Penjaga: "Mungkin bu". (Dia orang lokal, jadi dia juga mungkin ikut merahasiakan); Hmmmmmmmmm. 

Jalan antara pintu 1 dan 2 Kota Bunga banyak sekali Restoran, Kafe, dan tempat usaha dengan plang bahasa ARAB, jadi kita tidak mengerti itu resto apa, karena tidak ada bahasa Indonesianya atau Inggris. (Bukankah ini harus ditertibkan ???)

Saya kelilingi Kota Bunga; beberapa perempuan Arab berjalan pakai Cadar bersama anak-anaknya. Nyaman banget mereka terlihat, seperti di negara mereka. Terlihat ada Lelaki-lelaki Arab bergerombol di beberapa rumah sambil menghisap SHISHA, tertawa-tawa (ngakak).

Saya putuskan datangi salah satu rumah dengan supir dan penjaga rumah, dan mereka semua berdiri menyambut saya dengan tegang awalnya. Saya memperkenalkan diri saya  dan mengajak mereka ngobrol di teras villa yang mereka sewa. They spoke broken  english. 

Salah satu cukup terpelajar dan berbahasa Inggris dengan cukup baik bahkan punya kartu nama.  Laki-laki tu semua "married man" dari negeri Saudi dan lagi "HOLIDAY" saja di Indonesia tanpa keluarga, Dan mereka juga saling mengenal satu sama lain di Kota Bunga. (Mungkin tadi mereka sedang cekikikan saling sharing tentang perempuan lokal). 

Sudah 1 minggu mereka disana dan mereka dijemput oleh satu agent langsung dari Bandara ke Kota Bunga. Jadi praktis mereka tidak pernah kemana-mana selain kawasan Puncak. Amazing !!! Enggak kepengen sama sekali ke Bali atau Raja Ampat.

Si Intelek bercerita, banyak Agent  yang memang HANYA menawarkan wisata dari Arab langsung ke Kota Bunga termasuk menyediakan "PROSTITUSI". Jadi Wisata "Direct to Kota Bunga" ini masuk dalam kelompok middle upper class lah. Sekarang Wilayah Ciawi mereka anggap lower-class (secara khusus saya bertanya mengapa tidak ke Ciawi). Sesekali konsentrasi saya terpecah karena beberapa Arabmen naik motor besar GERUNG-GERUNG-GERUNG SUARANYA seperti GENG MOTOR dan mendengar mereka berteriak-teriak dengan excited. Lalu terdengar bunyi ledakan...  saya bertanya "bunyi apa itu???"  ternyata bunyi PETASAN di siang bolong TANPA event apapun!!! Saya yakin di negara mereka-pun TIDAK sebebas itu main petasan.

Saya tidak tahu siapa Pemilik kawasan Kota Bunga sekarang, yang meminta iuran PPL sebesar hampir Rp. 500.000 rupiah per bulan, tapi MEMBIARKAN konsep Kota Bunga yang lama menjadi seperti konsep kawasan PROSTITUSI Arab. Kata Penjaga Villa saya, sudah sering Orang Indonesia yang menginap disana terkejut-kejut dan ribut dengan Arab karena mereka main petasan tidak dilarang.

Menurut saya masalah kebebasan kultur dan SEX ARAB di Puncak ini sudah sangat luar biasa, kebablasan dan tanpa kontrol dari pemerintah. Presiden @Jokowi harus memerintahkan menteri atau pemda dan pihak-pihak terkait untuk memeriksa seluruh kawasan puncak itu. Saya yakin selain Prostitusi banyak pelanggaran lain seperti masalah perijinan tempat usaha, ijin tinggal dan sebagainya.

KOTA BUNGA-ku jadi KOTA ARAB 😱, sungguh menyedihkan ..😭
(copas dari Yuli Kristiyani)
Cermin pembiaran org Arab  di Cisarua oleh pemda setempat  yg sdh merebak kearah kota Bunga Cimacan  jalan masuk kearah taman bunga Nusantara dan  Cikanyere

Dirangkum oleh Infoteratas.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Video panas! Astagfirullah......Lihat Kelakuan Penghuni "Kampung ARAB" di PUNCAK "

Posting Komentar