Salah Bikin Nama, Karier Jadi Hancur. Artinya Nama Ahok Ternyata Bikin Merinding

Infoteratas.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama harus mengakhiri karier politiknya di bui. Hal itu karena kasus penistaan agama yang menyeretnya.

Terseretnya Ahok dalam kasus penistaan agama tak terlepas dari tabiatnya yang sering melontarkan kalimat kontroversial. Hal itu memicu reaksi dari para lawan politiknya maupun publik secara umum.

Sebetulnya, ada apa dengan Basuki Tjahaja Purnama? Apa itu ada pengaruhnya dengan kekuatan namanya? Percaya atau tidak, Psikolog dan Ahli Restrukturisasi Nama, Ni Kadek Hellen Kristy menjelaskan, nama Basuki Tjahaja Purnama sangat bagus dan memiliki kekuatan harmoni 90 persen. Namun saat nama itu diganti atau disapa menjadi Ahok, nama itu menjadi buruk.

"Nama Ahok itu jelek banget. Kekuatan nama Basuki Tjahaja Purnama jadi tenggelam pamornya. Ahok enggak bagus. Begitu pula dengan nama Jokowi. Ibaratnya Ahok enggak bagus pertama, dan nama Jokowi enggak bagus kedua," ungkap Heleni, sapaannya kepada JawaPos.com, Selasa (11/7).

Dari perhitungan dengan pendekatan transpersonal psikologi, nama Ahok dengan kelahiran 29 Juni 1966,  terjadi inharmoni atau negatif. Karakterisik semua ke arah negatif sehingga membuat Ahok terjebak pada pengkhianatan dan permasalahan lainnya yang sangat tinggi.

"Sehingga dari hasil perhitungan saya, masalah itu membuat Ahok di ambang batas normal yang dapat menyebabkan kehancuran signifikan. Jangan lagi sebut nama Ahok," kata Heleni.

Padahal nama Basuki Tjahaja Purnama membentuk harmoni yang baik dengan kode yang positif. Subjek mampu mengaktualisasi diri dengan optimal. Dengan kreativitasnya, subjek mampu memanfaatkan peluang besar.

"Sapa dia saja dengan Pak Basuki sebagai panggilannya, itu saran saya. Sehingga jangan dipanggil Pak Ahok lagi. Sama seperti Pak Joko Widodo, jangan panggil Jokowi lagi," tutur gadis Bali ini. 

Menurutnya sapaan Jokowi tidak bagus untuk sang insinyur. Dia menyarankan mulai saat ini sebaiknya media dan masyarakat menghilangkan nama Jokowi.

"Dari sisi nama, Pak Joko Widodo itu namanya bagus sekali. Harmonis, selaras dengan alam semesta. Namun jika disingkat, Jokowi itu mennjadi tidak baik," katanya kepada JawaPos.com, Selasa (11/7).

Heleni, sapaannya, menjelaskan mengapa nama Jokowi tidak baik bagi perjalanan hidup sang presiden. Menurutnya, saat dihitung dengan pendekatan psikologi transpersonal dan dicocokkan dengan kode rumus yang dia miliki, nama Jokowi mengundang niat jahat dari para pesaingnya.

"Nama Jokowi memiliki ending life yang enggak bagus. Kodenya enggak bagus. Membuat Pak Presiden ditipu, ditusuk dari belakang. Jadi lingkungan akan sangat berat bagi Jokowi," jelasnya.

Kemungkinan untuk terpilih lagi sebagai presiden, kata Heleni, sebetulnya terbuka lebar asal jangan lagi memakai nama Jokowi. Dia menyarankan media menyebutnya dengan nama lengkap Joko Widodo saja.


Psikolog dan Ahli Restrukturisasi Nama, Ni Kadek Hellen Kristy (Ist for JawaPos.com)



"Bisa saja sih peluangnya bagus, namun dari sisi nama pakai Joko Widodo saja. Namanya sudah bagus. Saran saya jangan pakai Jokowi lagi. Agar enggak banyak musuh lagi. Nama panggilan Joko saja bagus, tapi enggak sekuat Joko Widodo yang energinya bagus," jelasnya. (cr1/JPG/jawapos.com)



Subscribe to receive free email updates: