Video 'Ambulance' Bukanlah Prasangka Terhadap Umat Islam. Ini Dia Fakta Yang Sebenarnya!


Infoteratas.com - Polri mendapatkan bullying. Di media sosial twitter sejak kemarin bertengger tagar #polriprovokatorSARA.

Semua itu bermula dari film berjudul 'Aku Adalah Kau yang Lain' pemenang lomba film pendek atau Police Movie Festival.

Film itu yang mengundang cercaan sejumlah orang ke Polri. Film itu sendiri diunggah di akun @Divhumaspolri. Ada adegan di film itu saat ambulans lewat dan terhalang pengajian yang menutup jalan. Karena film itu Polri dituding tak adil.

Sebenarnya film yang beredar di media sosial itu tidak lengkap. Film yang dibuat sutradara Anto Galon versi lengkapnya berdurasi 7 menit.

Film itu memang bercerita saat pengajian yang digelar menutup jalan. Saat itu ambulans membawa pasien melintas dan mesti melewati jalan itu. Tapi kemudian, umat Islam memberi jalan ke ambulans.

Berikut wawancara lengkap dengan sutradara Anto Galon dari panitia police movie festival:

Film "Aku adalah Kau yang Lain" terpilih sebagai juara satu dalam lomba Police Movie Festival 4 tahun 2017, setelah dinyatakan menang pada tanggal 10 Juni 2017 lalu. Film tersebut banyak menerima tanggapan dari masyarakat, ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Sebenarnya apa sih maksud sang sutradara membuat film tersebut? dan apa sih pesan yang ingin disampaikan?

Berikut wawancara tim Police Movie Festival dengan sang sutradara, Anto Galon.

- Apa kabar mas Anto, bagaimana kabarnya?
Selamat Hari Raya Idul Fitri ya, mohon maaf lahir dan batin yaa.
Alhamdulillah baik mas, sama-sama mohon maaf lahir batin juga ya, semoga kita kembali ke fitri. Aamiin

- Langsung saja, masalah film "Kau Adalah Aku yang Lain" Film Anda yang menang di ajang lomba Police Movie Festival 4, bisa diceritakan enggak inspirasi untuk membuat karya itu muncul dari mana?
Dari tema Police Movie Festival 2017 kali ini yang bertema Unity In Diversity Saya mencoba menggambarkan bahwa Islam itu lembut dan Islam itu toleransi.
Mengenai salah satu watak yang diperankan Si Mbah, tokoh dalam film saya itu adalah gambaran dari sifat manusia bahwa di kelompok-kelompok tertentu, tidak hanya Islam, masih ada orang yang kolot seperti itu. Selalu saja ada oknum, digambarkan oleh Si Mbah seperti itu, tapi kemudian disadarkan oleh warga yang lain dan Polisi yang sedang berjaga di situ. Kita adalah pengingat bagi yang lain.
Di film ini pada akhirnya ambulans diberikan jalan dan tidak ada satupun, satupun masa pengajian yang menolak ambulans tersebut lewat bahkan Si Mbah akhirnya sadar dan ikut membantu ambulans tersebut lewat.

- Apa pesan yang ingin disampaikan dari film tersebut?
Oh jelas. Saya ingin menggambarkan bahwa islam itu toleransi, jadi saya berharap penonton jangan terfokus pada tokoh Si Mbah, jangan hanya nonton sebagian.
Perlu saya jelaskan juga bahwa pada bangunan sebuah film harus diciptakan sebuah kasus dan penyelesaiannya.
Penyelesaian kasus dari film ini jelas ada kebahagiaan dari rasa toleransi yang ada, Si Mbah adalah contoh oknum Islam yang enggak bener  dan warga yang lain adalah contoh Islam yang benar menurut saya, si mbah disini mewakili kata sifat bahwa manusia itu beraneka macam sifatnya. Jagad pewayangan adalah potret dari kita, bahwa manusia itu ada yang bersifat seperti Bima, Arjuna, Duryudana, Rahwana, Rama, Sengkuni dll

- Siapa saja pihak yang terlibat dalam pembuatan film tersebut, apa hanya Anda sendiri atau ada pihak lain yang membantu, misalnya khususnya masalah setting tentang pengajian?
Tentu banyak, tapi khusus pada adegan yang berkaitan dengan agama, saya banyak berkonsultasi dengan Kyai Budi Harjono, beliau adalah pengasuh ponpes Al Islah Semarang bahkan pada pengambilan gambar dari film ini beliau mempersilahkan Ponpes dijadikan area shooting. Judul film tersebut pun, beliau sendiri yang memberikan.

- Setelah dinyatakan menang nih ya, film Anda kan diviralkan oleh Divisi Humas Polri, banyak tanggapan di sana, ada yang pro ada juga yang kontra. Bagaimana tanggapannya?
Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang bisa menerima pesan yang ingin saya sampaikan lewat film tersebut.
Di inbox saya, itu banyak sekali ancaman dan hujatan, bahkan ada yang melaknat dan mengkafirkan saya, seolah mewakili sang pencipta yang memiliki hak.
Saya mengerti mungkin ada pihak-pihak yang kurang bisa terpuaskan, tersentil atau dengan kata lain pesan yang ingin saya sampaikan tidak sampai kepada pihak-pihak tersebut, saya mohon maaf. Sekali lagi saya mohon maaf jika film ini tidak bisa memuaskan semua pihak.

- Apa komentarnya khusus buat mereka yang kontra?
Tonton film tersebut secara utuh dan resapi. Film ini sendiri adalah sebuah renungan bagi saya sebagai seorang muslim, sehingga saya tidak menjadi oknum seperti yang si mbah gambarkan dalam film tersebut.
Terimakasih ya mas untuk waktunya, semoga karya-karya mas bisa pahami dan diterima publik.


Berikut kultwit dari akun @awemany yang menanggapi cuitan akun @netizentofa..














Kumparan.com



Subscribe to receive free email updates: