Puisi Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Rapimnas Golkar Bikin Heboh. Ternyata!


Infoteratas.com - Puisi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berjudul 'Tapi Bukan Kami Punya' menuai banyak tanya dari banyak pihak. Puisi yang dibacakan dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar pada Senin (22/5) di Balikpapan, Kalimantan Timur itu, seolah sedang memberikan kritik terhadap pemerintahan Indonesia saat ini. 

Namun, Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy membantah hal itu. Romy menilai, Gatot hanya menyampaikan keprihatinannya akan kondisi negara yang penuh ketimpangan sejak dulu hingga saat ini. 

"Sebenarnya bukan mengkritik tapi menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi hari ini. Keprihatinan itu bukan dibentuk tiba-tiba, namun akumulasi dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, mulai dari Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi yang menimbulkan ketimpangan seperti hari ini," ujar Romy usai menghadiri Rapimnas PPP bertajuk 'Ukhuwah Islamiah, Wathaniah, Basyariah sebagai Perekat NKRI' di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (23/5).

Menurut Romy, Gatot hanya mengingatkan masyarakat untuk menghargai bangsa sendiri. Persoalan pengangguran, ketimpangan dan kemiskinan, kata Romy, tidak bisa dilihat dalam beberapa tahun terakhir. 

"Jadi apa yang dilakukan panglima saya kira adalah bagian dari ikhtiar bahwa kita sebagai bangsa harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Yang dikritik kan itu. Dan persoalan utama kita adalah kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan itu terjadi atas proses bukan dalam dua atau tiga tahun tapi dalam berpuluh-puluh tahun, makanya harus ada transformasi struktural," ujarnya. 

Saat ini, puisi yang dibuat oleh konsultan politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA itu masih viral di berbagai media sosial. 


Berikut isi puisi yang dibacakan oleh Panglima TNI:

Tapi Bukan Kami PunyaSungguh Jaka tak mengerti, mengapa ia dipanggil ke siniDilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagahDari mata burung Garuda, ia melihat dirinyaDari dada burung Garuda, ia melihat desaDari kaki burung Garuda, ia melihat kota Dari kepala burung Garuda, ia melihat IndonesiaLihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnyaSangat luas sawahnya, tapi bukan kami punyaLihat padi menguning, menghiasi bumi sekelilingDesa yang kaya raya, tapi bukan kami punyaLihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertataRamai pasarnya, tapi bukan kami punyaLihatlah aneka barang, dijual belikan orangOh makmurnya, tapi bukan kami punyaJika terus Jaka terpana, entah mengapa meneteskan air mata, Air mata itu ia yang punya.

Tribunnews.com



Subscribe to receive free email updates: